Buku Bajakan Sistematis: Komentar Tulisan Yuniari Nukti

Tulisan ini merupakan publikasi ulang dari blog pribadi saya dulu yaitu bucinbajakan. Karena saya kehilangan akunnya, maka saya ingin mempublikasikan tulisan saya dulu dengan banyak perbaikan.

Penulis

Proses penciptaan buku bajakan ternyata telah berkembang dengan sangat sistematis, masif dan terstruktur. Membaca tulisan Yuniari Nukti yang berjudul Buka-bukaan bahas buku bajakan membuat saya geleng-geleng kepala. Saya bahkan menduga artikel itu hanya semacam karangan bebas karena sungguh benar-benar tak terpikirkan. Begitu sistematis, masif dan terstruktur buku bajakan di Jalan Semarang. Atau mungkin juga di toko buku emperan lain, seperti Shoping Jogja.

Namun terlepas dari kebenaran atau kepalsuan cerita dari Yuniari, setidaknya tulisan dia sudah memberikan sedikit informasi mengenai toko buku bajakan. Dari artikel itu pun saya mencatat beberapa hal sebagaimana yang akan saya jelaskan di bawah ini:

Tidak semua penjual buku bajakan merupakan pembajak

Jika melihat UU Hak Cipta 2014, agaknya perlu diklasifikasikan ulang mengenai pembajak buku dan penjual buku bajakan. Hal ini ada hubungannya dengan tulisan saya sebelumnya, yakni lokapasar daring atau marketplace. Dalam UU Hak Cipta 2014 pasal 10 disebutkan Pengelola tempat perdagangan dilarang membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang hasil pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di tempat perdagangan yang dikelolanya

Nah jika dihubungkan dengan artikel Yuniarni, maka bisa dikatakan seluruh toko buku bisa diadukan. Pihak penerbit yang pernah mendatangi toko buku juga terkesan lucu, apalagi membawa pengacara. Cara yang paling memungkinkan untuk menadalah menutup seluruh toko buku itu. Karena mustahil juga memeriksa satu per satu buku yang di jual di sana. Tapi itu juga sangat kejam. Setitik nila rusak susu sebelangga. Dilema juga. Diberi peringatan, percuma. Dihancurkan juga sia-sia.

Karena dilema itu, menurut saya perlu diklasifikasikan ulang, apakah dia pembajak buku atau penjual buku bajakan. Atau mungkin adalagi, sales buku bajakan.

Buku Bajakan Ada Sales-nya

Yang membuat menarik dari tulisan Yuniarni adalah ini: buku bajakan ada sales-nya. Bagi saya itu, baru. Seketika saya lalu membayangkan ada seseorang yang datang ke Jl. Semarang sambil membawa pick up, lalu menyodorkan nota, meretur, atau menstok ulang, menagih, dan sejenisnya, seperti bapak-bapak yang biasa meretur rokok. Karena kata sales tidak mungkin bermaksud seperti Sales Promotion Girl. Cukup! Jangan membayangkan cewek cantik, mulus, bahenol dan wangi seperti bidadari menawarkan buku di warung-warung.

Dari situ kemudian muncul pertanyaan, apakah sales bisa dikategorikan sebagai pengelola perdagangan? Bisa iya, bisa tidak. Tapi menurut saya, secara formal jika membaca cerita Yuniarni, maka Salas buku bajakan bisa di-ma’fu. Karena dia hanya mengirimkan buku yang mungkin dia sendiri tidak tahu apakah itu buku bajakan atau tidak dari penerbit (KW maupun Ori). Ini tentu sesuai dengan pepatah, penjual belum tentu memakai.

Ada kesepakatan antara pembajak buku dengan penerbit, penulis dan penerbit KW.

Poin ini menjadi daya tarik kedua artikel Yuniarni. Kesepakatan. Jinguk. Sungguh benar-benar terstruktur, masif dan sistematis. Saya pun tidak bisa menerka-nerka atau membayangkangkan bagaimana isi kesepakatan itu. Yuniarni menulis:

“Ya, harus best seller, Mbak, kalau buku biasa yang gak seberapa laku penerbitnya bisa rugi. Saya ambilkan contoh buku A*ak S*ngk*ng. Oleh penulisnya, buku itu malah dibebaskan dijual dalam bentuk KW supaya bisa dibaca sampai ke masyarakat bawah. Harga aslinya 50 ribu, beli yang KW harganya 15-20 ribu”

Dari kutipan itu, saya sedikit bisa mengimajinasikan bahwa isi kesepakatan terselubung pembajakan buku ini pasti berisi tentang harga dan kategori buku. Dan itu sudah cukup sepertinya. Ingat, Buku juga adalah komoditas. Deal-Deal-annya tidak jauh dari harga.

Buku bajakan di jalan Semarang. Sumber: http://yuniarinukti.com/4478/buka-bukaan-bahas-buku-bajakan
Buku bajakan di jalan Semarang.
Sumber: http://yuniarinukti.com/4478/buka-bukaan-bahas-buku-bajakan

Tidak ada yang marah

Artikel Yuniarni juga memberikan gambaran bahwa baik penjual, pembajak, penerbit, atau penulis, tidak ada yang marah. Apalagi pembeli. Pembeli jelas tidak ada masalah dengan buku bagus berharga murah. Terus kalau rantai ekonomi buku bajakan itu merasa tidak ada masalah, tidak ada yang dirugikan, dan karenanya tidak ada yang marah, maka apakah saya atau mungkin kalian para penggiat buku, pecinta buku, peneliti, atau kritikus, polisi, kiai, atau aparatur negara berhak marah? Tidak!

Pangsa Pasar Buku Bajakan Masih Terbuka Lebar

Ini juga yang dikatakan IKAPI dalam bukunya (2015). Kehadiran buku digital masih tidak bisa menggilas buku manual. Buku asli, dari kertas, yang bisa disobek-sobek saat galau, dibuat bantal, dibuat ngusir kucing, dikaplokno murid nakal. Ibu Suri Dee pernah menuliskan perihal kubu pecinta buku digital dan buku nondigital di laman pribadinya saat meluncurkan Novel Aroma Karsa versi digital untuk pertama kali.

Pada intinya, menurut saya, selama masih ada pembaca buku, toko buku manual pasti tetap ada. Minimal penerbitnya bisa bertahan. Tapi bagaimana dengan buku bajakan yang tidak ada penerbit! Entahlah. Laissez-Faire!

Tulisan dari Yuniari membuktikan danya buku bajakan sistematis, masif dan terstruktur (hehe). Di sisi lain, pangsa pasar buku bajakan masih terbuka lebar. Jadi, apakah kita harus melawan pembajakan buku yang terstruktur, masif dan sistematis seperti yang dilakukan cebong-kampret! Bodo amat! Turu ae le.

Post Author: bacatulis

Nama pena dari Ahmad Maghfur. Lahir di Gresik. Belajar di mana-mana. Sekarang kebetulan sedang belajar di Yogyakarta. Untuk menghubungi sila ke punkysme@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *